Spekulasi Mimpi
gambar: merdeka.com
Penulis: Abel Harapan
Kebiasaan
merenung akan fenomena-fenomena menakjubkan menimbulkan banyak pertanyaan dalam
benak penulis. Mulai dari fenomena rasional pun yang irasional. Sejauh ini
salah satu topik perenungan saya adalah
fenomena MIMPI. Alhasil perenungan itu menemukan sederetan buah pikir,
dan saya mencoba menarasikannya dalam artikel ini. Tulisan ini mutlak hanyalah
spekulasi penulis, terlepas dari apa itu mimpi dan realitas faktual secara teori sains.
Seberapa sering kita bertanya pada
diri sendiri akan misteri mimpi dan seberapa sering kita berpikir untuk mencoba
menjawabnya?
Ada
kalanya serangkaian kejadian dalam mimpi bisa terjadi dalam ruang nyata
(selanjutnya disebut realitas faktual), ada juga yang hanya sebatas kejadian
dalam ruang mimpi (realitas mimpi) . Sebaliknya kejadian dalam realitas faktual bisa terbawa kedalam realitas mimpi. Versi kejadiannya pun hampir sama atau
berbeda tetapi bisa jadi connected
dengan kejadian dalam realitas faktual
atau sebaliknya. Versi kejadian yang
dimaksud adalah latar kejadian meliputi tokoh, tempat, waktu, kronologis kejadian,
suasana, dll yang muncul dalam mimpi dan realitas faktual. Apabila mungkin
kejadian dalam realitas mimpi itu benar-benar terjadi dalam realitas faktual
maka hanya ada dua kemungkinan latar yang muncul; latarnya sama persis atau
berbeda tetapi dari sekian latar yang muncul dalam realitas mimpi, salah
satunya dapat muncul dalam kejadian yang terjadi dalam realitas faktual.
Kejadian dengan latar sama persis antara realitas mimpi dan realitas faktual
memang sangat jarang terjadi.
Baca juga virtualisasi kegiatan organisasi pada masa pandemi
Apa Itu Mimpi ?
Terlepas dari pengertian mimpi menurut para ahli, berdasarkan
buah pikir sendiri, penulis mendefenisikan Mimpi
sebagai sekumpulan probabilitas (peluang) kejadian yang akan terjadi dalam realitas
faktual. Apabila kejadian dalam realitas mimpi terjadi dalam realitas faktual
maka kejadian itu disebut oleh penulis sebagai pengulangan peristiwa. Pengulangan peristiwa/kejadian itu versinya
didesain sama persis atau berbeda. Peristiwa-peristiwa mana
saja yang memiliki kemungkinan untuk hadir dalam dunia mimpi?. Penulis tidak tahu
darimana asal peristiwa itu, pertanyaan ini sangat sulit dijawab sehingga
penulis mengajukan dua kemungkinan asal muasal peristiwa yang terjadi dalam
ruang mimpi itu;
1).
Berasal dari sesuatu yang tidak/ belum terjadi sebelumnya dalam realitas faktual yang kita alami sendiri juga
dialami orang lain
Asal
peristiwa pada poin ini, juga tidak dapat diketahui secara pasti, sehingga
untuk hal ini penulis hanya bisa berasumsi, bahwa ada suatu entitas-hipotetis yang menjadi penyedia
yang menghadirkan setiap kejadian dalam ruang mimpi itu.
Sehingga kejadian yang muncul bukan berupa probabilitas, melainkan hasil suatu
kehendak/keputusan entitas-hipotetis
tersebut diatas. Atau mungkikah kejadian yang bukan berasal dari realitas
faktual yang kita alami atau dialami oleh seseorang yang ada di bumi merupakan
kejadian yang pernah dialami sesuatu yang ada di dunia lain??? Pernakah kita
bermimpi diri kita sendiri terbang tapi tak bersayap? pernakah kita berjalan
diatas air? Pernakah kita bermimpi melihat sosok asing yang tidak pernah kita
temui dalam keseharian kita?
2).
Berasal dari setiap kejadian yang ada dalam ruang realitas faktual.
Untuk poin ini, kita bisa mengetahui berapa peluang
suatu kejadian dalam ruang realitas faktual untuk terjadi dalam ruang mimpi
jika kita mengetahui berapa jumlah peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu
tertentu. Misalnya, hari ini ada 10 kejadian (katakanlah kejadian
A,B,C,D,E,F,G,H,I,J,) dalam ruang realitas faktual yang kita alami, maka
peluang setiap kejadian untuk terjadi kembali dalam ruang mimpi adalah 1/10. Artinya dari sekumpulan
peristiwa itu, seharusnya ada salah satu peristiwa yang pasti terjadi dalam
ruang mimpi sebab masing-masing peristiwa memiliki peluang kejadian. Yang tidak
diketahui secara pasti adalah kapan
peluang itu akan terjadi?. Permasalahannya kita sendiri tidak bisa
memutuskan dan melegalkan setiap
kejadian agar sungguh-sungguh terjadi dalam ruang mimpi, sekalipun peluang
setiap kejadian dapat dinyatakan dengan angka. Mengapa? Andaikan
10 kumpulan peristiwa dalam ruang realitas faktual itu terkumpul dalam satu
kotak A lalu kita mengambil secara acak . Lalu ingin memasukkan setiap kejadian itu kedalam ruang
mimpi, sebut saja kotak B. benar angka peluangnya adalah 1/10 untuk setiap
kejadian. Pertanyaanya apakah setiap peristiwa itu benar-benar terwakili oleh angka itu dan
apakah kita bisa memutuskan secara absolut kejadian ini-itu yang akan terjadi
dalam ruang mimpi? Kita tidak bisa memutuskan sebab setiap kejadian itu bukanlah
suatu benda yang bisa disentuh berbeda dengan ketika kita mengambil bola putih
dari sekumpulan bola warna-warni dalam satu kotak. Suatu keniscayaan bahwa ada
salah satu bola yang bisa kita ambil, terlepas dari warna yang diinginkan
sesuai atau tidak. Jadi bisa disimpulkan kendati secara matematis ada peluang
setiap kejadian dalam ruang realitas itu untuk terjadi dalam ruang mimpi, namun
harus ada satu entitas yang mengambil
keputusan untuk menyatakan setiap kemumgkinan itu.
Penjelasan pada poin dua, berlaku juga untuk setiap
peristiwa yang berasal dari poin satu. Dengan mengetahui/mengingat berapa
kejadian/peristiwa yang terjadi dalam mimpi, peluang setiap kejadian untuk
terjadi dalam realitas faktual juga bisa dihitung. Tetapi kembali lagi penulis
katakan tergantung kehendak entitas itu...Entitas itu berupa apa?
Asumsi penulis dari sekumpulan probabilitas kejadian
itu ada suatu Energy yang memiliki
kekuatan dalam menyiapkan dan memilih probabilitas mana yang harus terjadi
dalam ruang nyata. Contoh, hari-hari
ini, orang bermain tebak angka. Salah satu caranya adalah melalui mimpi. Dalam keadaan tertidur, mereka bermimpi ditunjukkan
sederet angka misalnya, keesokan harinya digit angka itu dapat
benar/sama, walau sesekali berbeda dengan deret angka yang disiapkan pengatur permainan. Inilah contoh
dengan versi sama persis. Adapula kejadian dalam ruang mimpi dapat dianalisis
untuk memprediksi suatu peristiwa yang akan datang. Hasil analisisnya juga dapat tepat atau tidak. Kembali ke
probabilitas itu sendiri. Seringkali kita bermimpi bertemu dengan orang atau
tempat tertentu atau wujud apapun yang tak pernah kita lihat ataupun temui
dalam ruang realitas faktual. Wujud orang, suatu tempat ataupun wujud apapun
itu yang kita lihat dalam ruang mimpi itu bisa saja ada dalam ruang realitas
faktual, atau bahkan berasal dari ruang lain. Bagaimana mungkin gambaran
seperti itu hadir dalam ruang mimpi sementara kita tidak memiliki bayangan akan
gambaran itu? Barangkali energy itu yang
menghadirkan gambaran-gambaran asing itu? Apakah pembaca percaya bahwa itu
semua adalah kebetulan belaka? Lalu, bagaimana “kebetulan” itu sendiri
dijelaskan?
Bagaimana mimpi kadang terjadi
dalam dunia nyata, kadang tidak?
Penulis mengandaikan suatu Dunia Komples terdiri dari dua buah ruang simetris dengan isi yang berbeda dan satu buah ruang penghubung kedua ruang simetris itu.
gambar. karya penulis
Ruang A disebut sebagai ruang
mimpi berisikan sekumpulan probabilitas kejadian. Disinilah suatu energi
penyedia menciptakan segala pilihan kejadian yang dijadikan sebagai probabilitas kejadian untuk terjadi dalam ruang realitas
faktual. Ruang B disebut sebagai ruang konjungsi yang menghubungkan ruang A dan ruang C, sekaligus
sebagai ruang filtrat yang menyeleksi setiap probabilitas kejadian yang ingin dijadikan sebagai kejadian dalam ruang
nyata. Di sinilah tempat
energi penyeleksi berada. Energi penyeleksi inilah yang memilih probabilitas
mana yang boleh masuk (boleh jadi) kedalam ruang realitas. Probabilitas yang berhasil masuk ke
ruang B dapat didesain lagi atau tidak tergantung energi itu sendiri. Jika probabilitas yang
keluar dari ruang B sama persis dengan kejadian diruang A maka dapat
disimpulkan probabilitas itu tidak didesain ulang, tetapi apabila kejadian yang
terjadi di dunia nyata
hampir berbeda maka tentulah probabilitas itu telah didesain ulang. Ruang C
disebut ruang realitas, di sinilah
tujuan akhir dari probabilitas kejadian
yang lolos seleksi. Dalam ruang C ini bercampur antara kejadian yang
berasal dari ruang mimpi dengan aktivitas kita sehari-hari. Perhatikan
tanda panah bolak balik
, itu mendandakan
perjalanan waktu bolak balik atau kejadian
antara ruang A dan ruang C dapat terjadi
secara bolak balik. Dalam artian kejadian dalam ruang realitas bisa menjadi
probabilitas kejadian untuk terjadi dalam ruang mimpi, tergantung energi
penyeleksi yang menentukan.
Titik-titik
hitam dalam ruang A dan ruang C merepresentasikan setiap peristiwa yang terjadi
dalam ruang mimpi dan ruang realitas. Itulah sebabnya penulis menempatkan
titik-titik hitam lebih banyak pada ruang realitas, faktanya manusia lebih
banyak beraktivitas dalam ruang realitas. Semakin banyak peristiwa terjadi
semakin banyak pula probabilitas peristiwa yang tersedia. Peristiwa dalam ruang
mimpi merupakan probabilitas kejadian yang akan terjadi dalam ruang realita,
sebaliknya kejadian dalam ruang realitas merupakan probabilitas yang akan terjadi
dalam ruang mimpi.
Apa
itu realitas faktual dalam hubungannya dengan realitas semu (mimpi)?
Dari penjelasan sebelumnya maka timbul definisi baru kejadian-kejadian dalam dunia
realitas merupakan sekumpulan probabilitas kejadian yang bisa masuk ruang
mimpi. Atau realitas merupakan sekumpulan probabilitas kejadian yang akan
terjadi dalam ruang mimpi. Ruang mimpi,
ruang filtrat dan ruang realitas itulah dunia menurut penulis.
Mengapa mimpi hanya terjadi saat tidur?
Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis mencoba mengaitkan mimpi dengan perjalanan waktu. Penulis meyakini perjalanan waktu itu sungguh-sungguh ada, tetapi penulis perlu mempertegas bahwa perjalanan waktu yang dimaksud bukan perjalanan waktu secara entitas fisik, melainkan perjalanan waktu secara nonfisisk. Istilah nonfisik mengandaikan ada suatu entitas lain yang invisible yang berperan dalam proses bagaimana mimpi hanya bisa terjadi saat raga (fisik) tertidur. Ialah jiwa. Saat raga kita tertidur maka ada transformasi/pengalihan fungsi kerja tubuh dari raga ke jiwa. Fenomena itu terjadi setiap kali kita tidur. Jiwa berjalan menuju ruang-waktu di masa depan, di sinilah Ia beraktivitas. Asumsi penulis, pengalihan fungsi kerja tubuh hanya mungkin terjadi saat tertidur, tidak pada kondisi lain. Imajinasi penulis membawa kita pada ilustrasi berikut.
gambar. karya penulis
Ilustrasi di atas menggambarkan daerah fungsi kerja
jiwa dan raga sebelum tidur dan setelah tidur. Tanda panah hijau menandakan
arah pengalihan fungsi kerja. Sebelum tidur jiwa dan raga kita tentu bekerja
secara sinergis dalam ruang realitas. Saat tidur (daerahnnya, ditandai oleh
kotak hitam) raga dalam diam (istirahat)
dan dalam kondisi ini terjadi pemisahan fungsi kerja sementara, tubuh (raga)
tetap dalam ruang realita sedangkan jiwa masuk dalam ruang mimpi. Semacam ada sesuatu
yang memisahkan jiwa dan raga secara sementara. Saat terbangun jiwa dan
raga kembali bersinergi untuk melakukan
serangkaian aktivitas ruang realitas, dalam kondisi ini sesuatu tadi menyatukan kembali jiwa dan raga untuk sementara pula.
Penulis bisa katakan bahwa ada sesuatu
yang bersemayam dalam kondisi tidur, peran sesuatu
itu yang menentukan jiwa dan raga kembali bersatu atau tidak. Sesuatu itu
penulis sebut sebagai energy. Saat mimpi-mimpi indah dan seru
terjadi tiba-tiba energy itu
membangunkan kita hingga kembali ke ruang realitas, maka bersyukurlah... sebab
bila mimpi-mimpi indah dan seru itu tak kunjung
henti maka abadilah perpisahan jiwa-raga itu maka berakhirlah kisah kita
dalam dunia ini.
Jadi mimpi itu merupakan bentuk
aktivitas yang dikendalikan oleh dan hanya jiwa. Dan jiwa dapat bekerja
sendirian saat tidur setelah terjadi pemisahan fungsi kerja itu. Itulah sebab yang menjadikan mengapa mimpi hanya
terjadi saat tidur (tentu menurut
pemikiran penulis).
Mengapa mimpi tidak terjadi setiap kali
kita tidur?
Dalam paragraf sebelas penulis
katakan bahwa mimpi itu suatu bentuk aktivitas kerja jiwa. Sama halnya dengan
raga, yang memiliki kecenderungan untuk diam dalam kurun waktu tertentu. Diam
dalam hal ini bukan diam karena tertidur melainkan kecenderungan untuk
bermalas-malasan tanpa aktivitas apa-apa. Jiwa pun demikian tidak selamanya ia beraktivitas meskipun waktunya bagi
dia untuk beraktivitas.



Mantap kae.
BalasHapusSukses dan semangat selalu untuk kedepannya💪💪
Terimakasih g ase
HapusMantap pa sek 🤗
BalasHapusTerimakasih Itin
HapusMantap kk👍
BalasHapusTerus berkarya kk