Virtualisasi Kegiatan Organisasi Kemahasiswaan dalam Masa Pandemi
Penulis: Abel Harapan/Mahasiswa Pendidikan Fisika Undana Kupang
Semenjak
kasus positif corona virus mulai
meluas, kurva angka kematian pun
turut meningkat. Menyikapi masalah ini pemerintah
membuat berbagai kebijakan untuk diterapkan secara nasional.
Hingga saat ini, kita telah terbiasa dengan social/physical distancing, PSBB, hingga
New Normal Life. Kebijakan-kebijakan tersebut diberlakukan
demi meminimalisasi penyebaran corona virus dan dengan harapan jatuhnya korban pun dapat terminimalisasi. Selain itu, kebijakan-kebijakan itu juga diharapkan
dapat memulihkan perekonomian nasional yang berpotensi terjebak krisis.
Mirisnya, kebijakan-kebijakan ini belum mampu menghentikan laju penyebaran
Covid-19. Dari hari-hari ke hari, media memberitakan membengkaknya angka
kematian dan perekonomian yang terus melorot.
Realitas demikian, menuntut kita untuk memulai habitus
baru yang memungkinkan kita adaptif di tengah situasi yang tidak menentu ini. Work From Home (WFH) dan Pendidikan
Jarak Jauh (PJJ) adalah dua contoh dari habitus baru itu. Tentu, WFH dan PJJ
tidak dapat berjalan tanpa teknologi digital. Dalam hal ini, teknologi digital
menjadi faktor determinan dalam menentukan kelanjutan habitus baru di tengah
pandemi. Hal ini sangat beralasan, sebab teknologi digital memungkinkan kita
bekerja dari sudut rumah kita sendiri dan berinteraksi serta bertransaksi
dengan orang lain secara daring. Bagi para pelajar sudah tersedia aplikasi
pembelajaran daring, sehingga mereka tidak perlu hadir di sekolah. Karena itu,
di tengah pandemi ini, setiap sektor kehidupan diharapkan dapat mengakrabkan
dirinya dengan teknologi digital. Jika mengambil jarak dari budaya digital,
kita akan tertinggal jauh dan berpotensi kolaps.
Budaya baru dengan mekanisme digital ini turut mempengaruhi
organisasi-organisasi kemahasiswaan yang dikenal aktif dalam menyelenggarakan
berbagai event baik untuk kebutuhan
kampus maupun untuk pengabdian masyarakat. Namun, pandemi menggerogoti nasib
hidupnya. Tidak hanya berpotensi kehilangan program unggulan yang dijalankan
secara berkala, mereka juga akan mengalami situasi ‘vakum’ aksi. Eksistensi
organisasi kemahasiswaan, tentu, meniscayakan adanya kegiatan-kegiatan yang
sesuai dengan anggaran dasar dan tujuan pendiriannya. Karena itu, jika ingin
tetap hidup, mereka perlu beraksi. Dalam hal ini, organisasi-organisasi
dituntut untuk memikirkan strategi survival yang relevan di tengah pandemi.
Adaptif dan Kritis
Hidup matinya suatu organisasi tidak terlepas dari kerja
suatu entitas hidup yang adaptif, yaitu manusia. Manusia merupakan jiwa dari
organisasi itu sendiri. Lebih khusus lagi untuk organisasi kemahasiswaan, jiwanya
ialah manusia-manusia yang idealis,
kritis, dan barangkali
sedikit ‘melawan’ segala bentuk kebijakan pemerintah yang
menurutnya tidak tepat sasaran.
Ya, itulah mahasiswa. Ia selalu berusaha membuka tabir dan menyingkap selubung
yang menindas. Semangat emansipatoris ini menjadi ideal bagi organisasi
kemahasiswaan.
Menurut definisinya, organisasi kemahasiswaan adalah
sebuah wadah berkumpulnya mahasiswa yang dibentuk dengan anggaran dasar (AD)
atau demi mencapai tujuan bersama yang disetujui oleh semua anggota organisasi
tersebut. Organisasi ini dapat berupa organisasi
kemahasiswaan intrakampus, organisasi kemahasiswaan antarkampus, organisasi
ekstra kampus maupun semacam ikatan mahasiswa kedaerahan yang pada umumnya beranggotakan
lintas atau antarkampus (wikipedia.org, 19/2/2021). Dengan
demikian, keberadaan sebuah organisasi adalah sesuatu yang direncanakan dan
dirancang secara rasional dengan orientasi pada tujuan tertentu.
Terlepas dari hakekatnya sebagai sebuah entitas yang
dibentuk dengan basis idealisme tertentu, setiap organisasi selalu berhadapan
dengan realitas aktual yang menuntutnya untuk beradaptasi. Dalam hal ini, kita
dapat menggunakan seleksi alam (natural selection)
Charles Darwin bahwa hanya makhluk atau entitas yang adaptiflah yang mampu
bertahan hidup. Dengan demikian pada masa pandemi ini, organisasi kemahasiswaan dituntut untuk adaptif.
Adaptabilitas berarti kesanggupan untuk menemukan strategi-strategi kreatif
dalam mengkomunikasikan dan merealisasikan agenda organisasi dengan realitas
real. Untuk tujuan ini, mahasiswa – yang adalah jiwa organisasi itu sendiri –
dituntut untuk kritis dalam menemukan konsep-konsep baru yang bisa diterapkan
dalam keadaan kritis. Kebiasaan-kebiasaan lama, seperti pada masa prapandemi,
tidak dapat dipertahankan lagi di tengah pandemi ini. Mahasiswa harus mampu
menemukan alternatif lain tanpa takut kehilangan idealisme dan kultur
organisasinya. Hemat penulis, alternatif itu adalah virtualisasi
kegiatan-kegiatan organisasi kemahasiswaan. Sebagaimana halnya pada WFH dan
PJJ, teknologi dan media digital juga merupakan instrumen utama dalam
memvirtualisasikan kegiatan-kegiatan mahasiswa.
Virtualisasi
Kegiatan
Kita
hidup pada zaman teknologi, banyak vitur-vitur, teknologi canggih yang
dikembangkan untuk mempermudah aktivitas manusia. Sebagai makhluk yang peka, mahasiswa
sebaiknya merespons secara bijak perkembangan teknologi digital. Dengan memanfaatkan teknologi informasi (smartphone, komputer/laptop,
TV) dan platform
aplikasi digital (google
meet, dishchord, google form, edmodo, email), organisasi kemahsiswaan dapat menjalankan aksinya
secara maksimal. Platform digital tersebut memungkinkan pelaksanaan aktivitas
organisasi secara virtual dan seharusnya menjadi alternatif yang tepat.
Sederhananya setiap agenda organisasi dapat dilakukan dari tempat tinggal
masing-masing tanpa harus berkumpul
dan atau berkerumun. Lagipula pemanfaatan aplikasi semacam
ini dapat mengefisiensi
biaya, waktu dan tenaga serta menambah kecakapan kita dalam menguasai
teknologi. Memang tidak mudah merombak kebiasaan lama dalam berorganisasi,
apalagi memvirtualkan segala aktivitas organisasi secara serentak. Namun, tuntutan keadaan memaksa kita untuk adaptif dan
kritis serta bertindak secara realistis.
Kita
tidak dapat memprediksi secara pasti kapan pandemi corona virus berakhir. Ketidakpastian ini mensyaratkan kita untuk
selalu bersikap antisipatif.
Satu hal yang mutlak bahwa selama kurva penyebaran corona virus terus meningkat maka tuntutan transisi aktivitas
konvensional ke virtual akan terus dilakukan. Oleh karena itu, penulis menawarkan beberapa solusi. Pertama,
simplifikasi
program kerja organisasi yang relevan dengan situasi pandemi corona virus. Ini menjadi langkah awal
dalam menjalankan agenda organisasi secara virtual. Penerimaan anggota baru,
rapat-rapat penting, atau
pelantikan pengurus dapat dilakukan dengan memanfaatkan platform
digital. Sebagai misal,
organisasi mahasiswa dapat memanfaatkan aplikasi Zoom sebagai media komunikasi
untuk menggantikan pertemuan konvensional; memanfaatkan Googleform sebagai
media pendaftaran dan pendataan anggota baru; dan
Email menjadi ‘humas’ yang menghubungkan setiap organisasi. Dengan cara-cara
demikian, organisasi kemasiswaan dapat bertahan hidup dan melangsungkan agenda
berkalanya tanpa melanggar protokol kesehatan dan atau tanpa mengancam
keselamatan anggotanya sendiri.
Kedua, virtualisasi aktivitas organisasi secara bertahap. Sekurang-kurangnya langkah antisipatif menjalankan
aktivitas organisasi secara virtual harus dimulai dan dilakukan secara bertahap
hingga
pada akhirnya sanggup memvirtualisasikan segala aktivitas organisasi secara masif. Jika hal ini
tercapai, maka organisasi kemahasiswaan telah masuk pada budaya baru, yaitu
budaya organisasi berbasis teknologi digital.
Hal ini merupakan sebuah bentuk adaptasi mahasiswa – yang adalah jiwa organisasi
– dalam menyikapi situasi
pandemi corona virus. Sebagai langkah
awal, manfaat jangka pendek yang diperoleh adalah kemampuan menguasai media
digital yang sederhana dan mudah. Selanjutnya, keuntungan pada level jangka pendek ini
membawa mahasiswa pada manfaat jangka panjang, yaitu menguasai media digital
yang lebih kompleks. Hal ini juga memudahkan mahasiwa untuk bersaing dalam
dunia kerja yang menuntut penguasaan teknologi digital. Jika pada level
organisasi kemahasiswaan mereka telah mahir dan cakap dalam berteknologi, maka
mereka dapat diandalkan untuk bersaing dalam dunia kerja.
Akhirnya, penulis mengapresiasi setiap organisasi mahasiswa yang secara sadar dan berani menginisiasi kebiasaan baru dalam menjalankan agenda organisasinya secara virtual. Penulis optimis dengan kemampuan adaptif mahasiwa. Semoga keadaan kritis ini memacu mahasiswa dalam mengakrabkan dirinya dengan budaya teknologi digital. Namun, penulis juga tetap mengharapkan agar para mahasiswa dapat menggunakan teknologi digital secara beradab dan bertanggung jawab.
Komentar
Posting Komentar